Tantangan yang berat di tahun ini
Friday, May 23rd, 2008Kenaikan BBM yang diumumkan oleh pemenrintah tanggal 24 Mei 2008 memang sepertinya keputusan yang harus diambil karena perbedaan harga antara BBM di dalam negeri dengan di luar negeri sudah sangat besar. Kalau kita buat perhitungan sederhana untuk mengetahui berapa harga bensin (premium) tanpa di-subsidi dengan mengikuti harga minyak mentah yang saat ini sudah US$ 135/barel ialah sebagai berikut :
Harga minyak mentah dunia : US$ 135/barel (Rp 1,242,000/barel dengan kurs US$ 1 = Rp. 9200)
Konversi 1 Barel = 159 liter
Harga minyak mentah dalam liter = Rp 1,242,000 dibagi dengan 159 liter = Rp. 7811/liter
Harga tersebut masih harga minyak mentah, dimana masih harus dilakukan penyulingan (refinary) untuk mendapatkan bensin (premium). Selain biaya penyulingan tentunya ada biaya produksi lainnya, dimana seluruh biaya produksinya diperkirakan sekitar Rp. 1500 - Rp. 2000. Jadi harga "real" bensin tanpa subsidi paling sedikit Rp. 9000/liter. Sementara Harga 1 liter premium setelah naik : Rp. 6000/liter, jadi pemerintah masih men-subsidi sekitar Rp. 2000 - Rp. 3000.
Bicara mengenai konsumsi bensin dalam negeri, saat ini sekitar 1,1 juta barel per hari, sementara produksi minyak mentah Indonesia hanya 970 ribu barel per hari. Jadi ada defisit, ditambah lagi Indonesia tidak punya fasilitas penyulingan yang cukup untuk menghasilkan bensin, jadi harus melakukan impor bensin, yang harga lebih mahal dari harga minyak mentah.
Saya tidak bisa membayangkan kalau harga minyak mentah dunia mencapai US$ 200/barel, pastinya tekanan terhadap ekonomi dunia termasuk Indonesia akan tambah berat. Presiden Iran Ahmadinejad meramalkan akhir tahun 2008 ini, harga minyak mentah dunia bisa menembus harga US$ 200/barel. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu gangguan baik politik maupun bencana alam pada negara2 penghasil minyak seperti Irak sehingga supply minyak mentah dunia tidak bisa ditambah dan juga yang paling tidak manusiawi ialah permainan2 "fund manager" di negara2 maju untuk memutarkan uangnya untuk memperdagangkan minyak sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat dikarenakan pasar saham yang masih lesu dan kerugian mereka di pasar kredit perumahan (mortgage) di Amerika sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengganti kerugian tersebut dengan memperdagangkan (trading) minyak. Kapitalisme yang kejam!!!
Dampak kenaikan BBM (bensin) sudah jelas, yaitu harga-harga naik dengan drastis, bahkan sudah terjadi sebelum kenaikan BBM diumumkan pemerintah. Ini pasti akan memukul masyarakat miskin yang memang sudah sulit sejak kenaikan BBM pada Oktober 2005 yang lalu.
Kondisi ekonomi juga akan mengalami tekanan, dikarenakan pastinya daya beli masyarakan berkurang akibat kenaikan harga2 sementara gaji tidak mengalami kenaikan. Sejauh ini hanya gaji pegawai negeri yang sudah dinaikan pemerintah sebesar 20%.
Penurunan daya beli ini juga akan mempengaruhi performansi perusahaaan2 swasta yang akhirnya juga akan memukul pasar saham dan selama awal tahun ini sudah tertekan dengan kasus mortgage di Amerika. Perusahaan otomotif dan properti akan terkena dampaknya
Yang jelas tahun ini tantangan memang tambah berat.