Nobel Perdamaian dan Global Warming
Baru-baru ini, Al Gore, mantan wakil presiden Amerika, dapat Nobel Perdamaian untuk perannya menyuarakn perubahan iklim global (climate change) atau pemanasan global (global warming). Ini untuk kali kedua berturut-turut sejak tahun lalu, pemenang nobel perdamaian tidak ada hubungannya dengan peran perdamaian dalam suatu konflik. Tahun lalu yang menang ialah Muhammad Yunus dari Bangladesh, yang dengan Grameen Bank-nya, menyalurkan kredit mikro tanpa jaminan untuk orang-orang miskin di Bangladesh. Kebanyakan orang-orang miskin yang terima kredit tersebut ialah perempuan, dan Grameen Bank ini sangat berhasil mengangkat orang-orang miskin Bangladesh dari jurang kemiskinan. Sementara kalau kita lihat Al Gore, sebenarnya dia hanya menyuarakan dan mensosialisasikan saja mengenai bahayanya global warming dan perlunya langkah-langkah yang nyata untuk mengurangi dan menghentikannya. Tetapi mungkin panitia Nobel Perdamaian melihat bahwa apa yang dilakukan Al Gore sangat tepat dengan momentum global warming yang sedang dibicarakan dan disdiskusikan banyak orang di seluruh dunia dalam 2 tahun terakhir ini, khususnya sejak badai Kathrina yang menghancurkan New Orleans pada akhir 2005. Presiden Kita hampir mendapatkan Nobel Perdamaian untuk perdamaian di Aceh, tapi akhirnya tidak dapat mungkin karena dilihat bahwa perdamaian di Aceh itu terjadi karena adanya bencana tsunami pada Desember 2004 yang benar-benar menghancurkan infrastruktur dan perekonomian Aceh, yang akhirnya memaksa GAM untuk berdamai dengan RI….