Harga Minyak sentuh US$ 89/barel
Harga minyak dunia sentuh US$ 89/barel, ini merupakan rekor baru, yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Harga minyak ini langsung merontokkan saham beberapa perusahaan penerbangan Eropa, yang memang sangat sensitif terhadap harga minyak. Sudah pasti negara2 pengimpor minyak sangat khawatir dengan kenaikan harga minyak ini, termasuk Indonesia, yang meskipun negara penghasil minyak, tetapi konsumsi dalam negerinya cukup besar. Dimana yang terjadi sekarang, Indonesia mengekspor hampir seluruh minyaknya (yang memang kualitas bagus dibanding dengan minyak dari negara lain sehingga harganya relatif lebih mahal) dan mengimpor minyak dari luar negeri dengan kualitas dan harga yang lebih murah. Tetapi dengan melihat harga yang sudah sangat tinggi, sementara harga BBM di dalam negeri masih rendah, sehingga beban subsidi pemerintah akan semakin berat. Dikhawatirkan, apabila harga minyak terus naik, apalagi sampai di atas US$ 100/barel, maka mau tidak maunya pemerintah harus menaikan harga BBM di dalam negeri, yang pada akhirnya akan makin memberatkan rakyat. Kalau dilihat harga minyak yang tinggi ini, sebenarnya bukan karena persediaan (stock) minyak yang menepis, tapi lebih dikarenakan masalah politik, seperti kasus nuklir Iran, rencana serangan Turki ke Irak Utara (dimana di Irak Utara ini ada jalur pipa minyak dari Irak ke Turki), kemudian gangguan keamanan di Nigeria, dll. Sehingga lebih pada ketakutan pasar bakal adanya gangguan terhadap supply minyak dunia. Kalau melihat stock dunia, negara-negara Arab dan Rusia mempunyai stock minyak yang berlimpah. Sehingga dengan adanya kenaikan harga yang sangat tinggi ini, akan makin menguntungkan negara-negara Arab, yang produksinya besar dan konsumsi dalam negerinya kecil.
November 18th, 2007 at 10:14 am
Menurut literatur yg pernah aku baca, sebenernya ada 3 faktor yang mempengaruhi harga minyak mentah dunia :
1. Ketidakseimbangan antara demand dan supply
Faktor ini dipengaruhi banget oleh permintaan minyak tingkat dunia yg dari tahun ke tahun semakin tinggi dan juga kurangnya suplay minyak yang antara lain disebabkan oleh bencana alam, cepatnya perubahan di Timur Tengah, tekanan berbagai kondisi politik yg lain (contohnya : kekhawatiran thd kondisi politik di Nigeria sbg negara penghasil minyak terbesar ke-7 di dunia), dan berkurangnya cadangan suplay minyak dunia. Minyak kan sumber energi yg sangat terbatas yaaa…
2. Negara2 Barat udah mulai berpikir keras utk mencari energi alternatif yg bisa diperdagangkan. Hal ini muncul sbg dampak dari faktor pertama di atas.
3. Rencana negara2 Barat, terutama Amerika, untuk mengembangkan sumber-sumber energi alternatif dan menurunkan impor minyak telah menyebabkan terjadinya kenaikan harga minyak. Di sinilah oil companies, terutama yg di AS, berperan. Oil companies itu melakukan spekulasi harga dan membuat berbagai manuver untuk merekayasa permintaan spy terus meningkat, tanpa meperhitungkan kebutuhan konsumsi riil. Selain itu, oil companies itu juga melakukan penimbunan, shg harga minyak mengalami lonjakan.
Truuuussss….. Bagaimana bisa oil companies itu bisa sejalan dengan rencana Bush, sang Presiden AS? Jawabannya adalah karena dulunya Bush itu adalah orang minyak. Sebelum jadi presiden AS, Bush pernah kerja di pengeboran minyak di Texas. Begitu juga dengan Dick Cheney, sang Wapres, yg dulu pernah memimpin Halliburton Energy. Bahkan Condoleeza Rice juga pernah menjabat sbg CEO di Chevron Texas.
Ketiga faktor tersebut saling kait dan secara simultan menyebabkan terjadinya lonjakan harga minyak dunia. Jadi sebenernya pihak yg berhasil mengeruk keuntungan besar dari keadaan ini adalah perusahaan2 minyak kapitalis itu.
Bagaimana dengan Indonesia sbg salah satu negara penghasil minyak?
Ternyata di Q3 2007, ekonomi Indonesia tumbuh 6,5%, meski harga minyak dunia sempet menembus level USD 95/barrel, sementara pada APBN 2007 harga minyak dipatok pada level USD 70/barrel. Memang terjadi peningkatan subsidi BBM, tapi di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia juga menaikkan trade balance migas dan cadangan devisa kita. Secara otomatis, penerimaan APBN dari sektor migas juga naik. Kenaikan harga minyak dunia juga membuat Pemerintah berpeluang untuk mendapat windfall profit dr peningkatan laba BUMN bidang pertambangan, sehingga deviden Pemerintah akan meningkat. Menurutku, yg perku dicermati di sini adalah gimana caranya supaya kita bisa menjaga komposisi pengeluaran dan penerimaan APBN agar tetap seimbang, sehingga tidak terjadi defisit anggaran.
Mudah2an aja harga minyak dunia tidak sampai tembus ke level USD 100/barrel, karena hal itu pasti akan memukul dunia perindustrian di Indonesia.